celekit

Ikon

Celekit tanam padi

Bulan-bulan sekarang biasa sudah turun hujan deras-derasnya, akibatnya sungai-sungai meluap danau-danau dan waduk penuh terisi air, yang tidak beruntung ternggelam karena banjir.

Hujan itu berkah itu kata orang-orang tua dulu, tapi ada benarnya waktu sudah banyak hujan pasti akan mendatangkan rejeki, ya iya lah kan waktunya musim tanam padi. Padi hanya bisa tumbuh dengan air yang berlimpah, tapi ada juga padi jenis yang bisa tumbuh dalam keadaan tanah kerin itu namanya padi Gogo Rancah, eh walaupun padi senang dengan air yang berlimpah tapi kalo kebanjiran ya rusak atau puso (inget kata-kata Harmoko abis sidang kabinet jaman si Mbah Harto). Nah kalau sudah puso itu gagal panen, jadi gak bisa makan nasi, wong padi nya gak ada kok. Lah akhirnya pemerintah dengan segala upaya mencoba mengimpor beras, katanya supaya rakyatnya bisa makan nasi, tapi kan masih ada juga padi yang tidak gagal panen, tapinya lagi gak bisa dijual karena bulog kelebihan beras impor, jadi gak bisa beli berat petani, lah terus disuruh makan nasi doang gak pake lauk, ya kan gak punya uang buat beli lauk, berasnya gak laku….

Tapi namanya petani tetap semangat tuh kayak petani di Kabupaten Tegal yang masuk provinsi Jawa Tengah, optimis mau menanam padi, karena airnya sudah memadai buat mengiri sawah nya. Airnya diperoleh dari hujan dan ditambah lagi waduknya sudah penuh jadi kalau pintunya dibuka sudah bisa mengairi sawah, padinya bisa hidup sampai panen, weh nanam padi itu ternyata ritualnya banyak juga ya, nih mulai menebar bibit dari gabah sambil berdoa semoga padinya tumbuh sehat, eh kelupaan pertama ya tanahnya dulu diolah, dipacul supaya tanahnya gembur, dibalik-balik supaya tanah yang dibawah pindah keatas, supaya unsur haranya tetap terjaga, eh tapi sekarang banyak yang sudah gak pakai pacul atau pakai kebo tapi pakai traktor tuh yang kayak di iklan “mbambang-mbambang kamu bisa apa?” “Quick-quick…”

Eh iya kembali lagi setelah tanah dan tebar benih, dan benihnya sudah bersemi atau berkecambah, nah sawahnya digaris2 tuh, tapi jangan pake pengarisan 30cm ya… Bakalan boyok en deh dijamin, trus tancapkan tunas padi ke sawah, akarnya jangan sampe putus, kalau sampe putus yo mati padi nya. Cara memancapkan padinya dengan nandur katanya artinya nanam mundur, kenapa mundur biar lurus dong, kalau maju mana kelihatan padinya yang dibelakang, nanti malah zigzag gak aturan. Nah setelah tertanam barulah di pupuk, macam-macam pupuknya denger-denger sih ada yang urea dan lain-lain.

Kalau di Tegal tadi macam-macam sumber pengairannya ada yang hanya mengandalkan hujan ada juga yang mengandalkan waduk, wah ada juga yang mengandalkan mesin pompa, pake mesin pompa apa rugi ya, kan untuk menyalakn harus pake solar itu gak murah lho. Eh iya kata Ketua Induk Perkumpulan Petani Pemakai Air (IP3A) Waduk Cacaban, Iswanto, “saat ini hampir semua petani sudah memulai musim tanam pertama. Selain mendapatkan air dari hujan dan air waduk Cacaban, petani di Kabupaten Tegal juga mendapatkan air dari bendung Danawarih dan Bendung Cipero.” Tuh diambul dari Kompas kutipannya.

Semoga saja hujan tahun ini jadi sahabat bagi petani supaya bisa hasilkan padi yang dipanen dalam jumlah banyak, serta memenuhi kebutuhan pangan nasional, dan gak impor beras lagi, lah kita orang Indonesia itu makanan pokoknya nasi, kalo gak ada nasi lemes kayak gak makan, harapan rakyat juga sama yang penting beras murah bisa makan.(*)

Iklan

Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: